ANALISIS DAN DESAIN

Analisis

Jumlah tanaman perbedengan: 200 tanaman (4 tanaman pada baris x 50 pada kolom)

sketsa bedengan

jarak tanam

Lebar:

l=((50cm+50cm+50cm+35cm)×5)+600

l=1525 cm

Panjang:

 p=((50 cm (50-1)+40cm) )+200

p=2650 cm

 Tinggi:

t=to +tan(30°)×1/2 l

t=476+tan (30°)×1/2 (1525)

t=880cm

  Jadi ukuran dalam greenhouse l = 1525 cm, p = 2650 cm, dan t = 880 cm.

 

 

Pemilihan bahan kayu dengan metode pembobotan

 

Jenis kayu

Ys

Umur

Harga

(kg/cm2)

(tahun)

(Rp. Juta/m3)

Akasia

467,1

3

0,8

Mahoni

300

3

1,2

Jati

550

8

7

*dikelola dari berbagai sumber

 Perbandingan terhadap nilai yang diinginkan

Jenis kayu

Ys

Umur

Harga

(kg/cm2)

(tahun)

(Rp. Juta/m3)

Akasia

0,85

0,375

1

Mahoni

0,55

0,375

0,67

Jati

1

1

0,11

Perkalian perbandingan dengan pembobotan setiap variabel

Jenis kayu

Ys

Umur

Harga

Total

0,4

0,3

0,3

Akasia

0,34

0,1125

0,30

0,75

Mahoni

0,29

0,1125

0,20

0,53

Jati

0,4

0,3

0,03

0,73

  Jadi bahan akan digunakan adalah kayu akasia.

 

Penentuan sudut kemiringan atap Greenhouse

 

Pukul

t ke- (menit)

Derajat Kemiringan

Ulangan

Terbuka (x10 lux)

Plastik (x10 lux)

Paranet I (x10 lux)

Paranet II (x10 lux)

8.15

0

0o

1

354

279

289

55.1

8.17

2

2

377

263

374

62.1

8.19

4

3

378

279

301

76.7

8.21

6

4

419

328

359

88.4

8.23

8

5

416

308

386

63.8

Rata – rata

388.8

291.4

341.8

69.22

8.25

10

15o

1

471

371

815

211

8.27

12

2

495

378

696

219

8.29

14

3

491

391

524

226

8.31

16

4

412

404

628

112

8.33

18

5

502

403

547

124

Rata – rata

474.2

389.4

642

178.4

8.35

20

30o

1

782

551

183

373

8.37

22

2

629

501

108

287

8.39

24

3

608

484

102

296

8.41

26

4

619

495

116

359

8.43

28

5

631

522

114

450

Rata – rata

653.8

510.6

124.6

353

9.13

2

45o

1

773

619

118

185

9.15

4

2

787

568

107

156

9.17

6

3

810

575

865

212

9.19

8

4

789

561

811

169

9.21

10

5

706

607

949

166

Rata – rata

773

586

570

177.6

Sumber: Praktikum Teknologi Greenhouse TMB-Fateta 2013

 

 Jadi kemiringan sudut atap greenhouse yang digunakan adalah 30o

 

Desain

gamtek

gambar: http://www.4shared.com/folder/pYC8MTcw/_online.html

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Bagian greenhouse

Satuan

Ukuran

Lebar Greenhouse

m

15,25

Panjang Greenhouse

m

26,50

Tinggi Dasar Bangunan

m

4,76

Tinggi Ruang Tanam

m

4.00

Tinggi Atap Segitiga

m

4,04

Sudut atap

derajat

30

Lebar Pintu

m

2

Tinggi pintu

m

2,1

Bahan tiang

Kayu Akasia

Umur bangunan

tahun

+ 3

Sekuat tenaga Koto menarik Cimo. “Alhamdulillah, akhirnya kita keluar dari sungai. Kita seharusnya tidak boleh menang sendiri, begini deh jadinya!” kata Cimo sambil mengeringkan badannya. “Iya, seharusnya kita saling mengalah ya biar nggak dorong-dorongan. Maafin aku ya,” kata Koto yang sudah menyadari kesalahannya. “maafin aku juga ya…” jawab Cimo sambil tersenyum. Mereka pun bersalaman. Semalaman, hujan deras mengguyur perkampungan semut. Tidak ada satupun penghuninya yang berani keluar. Mereka tertidur lelap sampai sinar mentari menerobos masuk ke sarangnya. Cimo kecil, seekor semut hitam keluar dari sarangnya. Pagi itu, dia ingin pergi ke perkampungan jamur. Kebetulan perkampungan jamur itu dekat dari sarangnya. “Wa… pasti enak makan jamur di saat udara masih lembab begini!” pikirnya. Sebelum mencapai perkampungan jamur itu, Cimo harus melewati sungai kecil dengan seutas tali yang menjadi jembatan. Sungai itu sebenarnya air yang menggenang. Karena tubuh semut yang kecil, maka mereka menganggap bahwa genangan air itu sebagai sungai. “Aku harus hati-hati berjalan di atas jembatan tali agar aku tidak kecebur,’ kata Cimo dalam hati. Sesampainya di tengah jembatan, Cimo bertemu Koto, seekor semut merah yang baru saja keluar dari perkampungan jamur. Mereka berebutan ingin melewati jemabatn dan tidak ada satupun yang mau mengalah. “Cimo, kamu mundur dulu biar aku lewat duluan!” kata Koto. “Nggak! Kamu yang mundur dulu!” kata Cimo tak mau mengalah. “Aku yang sampai sini duluan Cimooo!” Koto mulai mendorong Cimo. Akhirnya Cimo dan Koto saling mendorong satu sama lain. Dorongan Cimo yang sangat kuat membuat Koto terjatuh ke sungai. “Astaghfirullahal’adzim, Cimo! Kamu mendorongku sampai jatuh. Sekarang lihat! Aku basah kuyup,” kata Koto sambil menangis. Cimo yang masih berdiri di atas jembatan tertawa terbahak-bahak. “Rasain lu!” ledek Cimo. Dengan marah Koto menarik kaki Cimo. Sekarang Cimo juga jatuh ke sungai. Koto menertawakan Cimo yang basah kuyup. “Lha kamu menarik kakiku, aku juga jatuh, basah kuyup,” kata Cimo menyalahkan Koto. Setelah itu, Cimo dan Koto berusaha untuk naik ke daratan. “Sungai ini sangat licin, aku kesulitan untuk naik!” Koto berusaha naik ke daratan, tapi selalu saja terperosot karena tanahnya licin. Cimo dan Koto mulai manyun. Mereka kedinginan. Akhirnya, mereka saling bantu agar segera keluar dari sungai. Badan Cimo yang lebih besar menopang tubuh Koto. Koto meloncat dan mendarat di daratan. Koto kemudian menarik tangan Cimo yang masih di dalam sungai. Sekuat tenaga Koto menarik Cimo. “Alhamdulillah, akhirnya kita keluar dari sungai. Kita seharusnya tidak boleh menang sendiri, begini deh jadinya!” kata Cimo sambil mengeringkan badannya. “Iya, seharusnya kita saling mengalah ya biar nggak dorong-dorongan. Maafin aku ya,” kata Koto yang sudah menyadari kesalahannya. “maafin aku juga ya…” jawab Cimo sambil tersenyum. Mereka pun bersalaman. Setelah tubuh Cimo dan Koto kering, mereka mencoba kembali melewati jembatan. Tapi, kali ini Cimo menunggu Koto selesai melewati jembatan dan sampai di seberang dengan selamat. Kemudian Cimo bergantian melewati jembatan ke perkampungan jamur. “Alhamdulillah, ternyata mengalah itu lebih baik,” kata Cimo dan Koto hampir bersamaan. (Inspired by Dani Hidayat)